Kamis, 15 September 2011

5 Universitas di Indonesia Ikut Kompetisi Peta Online

Margaret Puspitarini - okezone.com
JAKARTA - Mahasiswa dari lima universitas ternama di Indonesia berkompetisi dalam lomba membuat peta Indonesia terbaru secara online yang diselenggarakan oleh Global Facility for Disaster Reduction and Recovery.

Pemanfaatan peta yang dibuat secara online dengan menggunakan teknologi terbaru ini memiliki fungsi penting ketika terjadi bencana alam. Nantinya, ini dapat digunakan para ilmuwan untuk mengidentifikasi masyarakat yang ada di daerah rawan bencana dan memutuskan tindakan perlindungan dari bahaya bencana serupa di masa yang akan datang.

Adapun universitas yang mengikuti kompetisi yang didanai Pemerintah Australia melalui Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan Bank Dunia (World Bank), yaitu Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Andalas, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Manajer Risiko dan Kerentanan AIFDR Trevor Dhu mengungkapkan, peta yang dibuat secara rinci sangat dibutuhkan untuk siap siaga menghadapi bencana alam.

"Peta yang rinci sangat penting dalam mempersiapkan masyarakat saat bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, tsunami, dan gunung berapi," ujar Dhu seperti dikutip dari siaran pers yang diterima okezone, Kamis (15/9/2011).

Menurut Dhu, hasil karya para mahasiswa ini dapat membantu mayarakat dan pemerintah setempat untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak dari bencana yang mungkin akan terjadi.

"Peta ini dapat menunjukkan tempat tinggal masyarakat yang paling miskin dan rentan serta menunjukkan lokasi fasilitas umum seperti, rumah sakit dan sekolah. Untuk memahami risiko, kita harus mengetahui lokasi mereka tinggal dan bekerja serta terbuat dari apa bangunan yang mereka huni," katanya menerangkan.

Pada minggu ini, pemenang dari masing-masing universitas yang berpartisipasi akan melanjutkan perjalanan mereka ke Denver, Amerika Serikat (AS) guna menghadiri dua konferensi pemetaan internasional.(rhs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar