infokotamedan.com - Pernikahan yang diakui di negara kita hanyalah pernikahan antara
laki-laki dan perempuan, agama apapun juga tidak memperbolehkan
pernikahan antara sesama jenis. Dan seperti yang Tio sudah alami,
ternyata pernikahan tidak secara automatis mengubah keadaan.
Tio tidak kekurangan hormon testosteron, karena Tio tidak ada masalah ereksi kalau berhubungan dengan idaman Tio. Istri sebagai orang yang terdekat, mungkin juga akan tahu, tetapi itu mungkin risiko yang harus Tio hadapi.
Berterus terang dan menceritakan masa lalu tentulah akan melukai perasaan istri, karena ia akan merasa dibohongi, sebab Tio menceritakan sesudah pernikahan.
Apa tujuan Tio untuk berterus terang? Kalau supaya istri bisa membantu Tio berubah, mungkin bisa berguna karena Tio akan didampingi atau diingati oleh istri, walaupun itu juga akan menyakiti istri.
Kalau tujuannya supaya istri bisa memahami Tio, dan Tio tidak ada keinginan untuk berubah, saya rasa itu keputusan yang berat sebelah.
Jadi yang penting di sini, apa keputusan sebenarnya yang ingin menjadi keputusan Tio, ingin berubah atau tidak. Dan seberapa besar keinginan Tio, apakah hanya sekedar keinginan ditambah usaha dan doa, atau sudah merupakan keputusan yang harus dilaksanakan tanpa alasan lain.
Semua orang bisa mengontrol dan harus bertanggung jawab akan kelakuannya, misalnya dengan siapa ia berhubungan intim. Tetapi kita memang tidak bisa mengontrol perasaan, misalnya kepada siapa kita merasa 'tertarik'. Yang bisa kita lakukan, mungkin kita tetap 'tertarik', tetapi kita tidak 'melakukannya'.
Dr. Elly Ingkiriwang, SpKJ
Psikiater di Psychiatric Clinic, Royal Progress International Hospital, Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta 14350. Serta Staf pengajar di Jurusan Kesehatan Mental Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta.
sumber : detik.com
Tio tidak kekurangan hormon testosteron, karena Tio tidak ada masalah ereksi kalau berhubungan dengan idaman Tio. Istri sebagai orang yang terdekat, mungkin juga akan tahu, tetapi itu mungkin risiko yang harus Tio hadapi.
Berterus terang dan menceritakan masa lalu tentulah akan melukai perasaan istri, karena ia akan merasa dibohongi, sebab Tio menceritakan sesudah pernikahan.
Apa tujuan Tio untuk berterus terang? Kalau supaya istri bisa membantu Tio berubah, mungkin bisa berguna karena Tio akan didampingi atau diingati oleh istri, walaupun itu juga akan menyakiti istri.
Kalau tujuannya supaya istri bisa memahami Tio, dan Tio tidak ada keinginan untuk berubah, saya rasa itu keputusan yang berat sebelah.
Jadi yang penting di sini, apa keputusan sebenarnya yang ingin menjadi keputusan Tio, ingin berubah atau tidak. Dan seberapa besar keinginan Tio, apakah hanya sekedar keinginan ditambah usaha dan doa, atau sudah merupakan keputusan yang harus dilaksanakan tanpa alasan lain.
Semua orang bisa mengontrol dan harus bertanggung jawab akan kelakuannya, misalnya dengan siapa ia berhubungan intim. Tetapi kita memang tidak bisa mengontrol perasaan, misalnya kepada siapa kita merasa 'tertarik'. Yang bisa kita lakukan, mungkin kita tetap 'tertarik', tetapi kita tidak 'melakukannya'.
Dr. Elly Ingkiriwang, SpKJ
Psikiater di Psychiatric Clinic, Royal Progress International Hospital, Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta 14350. Serta Staf pengajar di Jurusan Kesehatan Mental Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta.
sumber : detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar