Selasa, 21 Juni 2011

Film Anak Sasada...kisah seorang pemuda Batak yang Hidup Bergulat di kota Medan


TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sutradara film berbahasa Batak Anak Sasada Pontyanus, yang pada tahun 2003 berkesempatan mengikuti Scuola Gen dari Gerakan Focolare untuk studi budaya di Geneva Switzerland ini, mengaku cerita Anak Sasada ini memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri masing-masing suku di Sumatera Utara. Dengan latar setting lokasi yang dominan dilakukan di Medan, Bakara dan Pantai Cermin, ia berusaha menceritakan bagaimana pergulatan seorang anak Batak bergelut di suatu daerah yang beragam etnis.

"Saya berusaha menyampaikan pesan moral meski berbagai suku ada di Sumatera Utara sebenarnya tetap menjunjung tinggi rasa kebersamaan. Sekaligus di film Anak Sasada  ingin mengimbangi film Ono Sitefuyu yang sempat sangat terkenal di kawasan Pulau Nias sana," ujarnya, Selasa (21/6).

Dikesempatan yang sama, ia mengaku banyak toko film di beberapa daerah menolak menjual produksi film yang ia buat. Alasannya, film Anak Sasada dirasa kuran komersil dan hanya bisa dijual pada kalangan minoritas dalam hal ini orang Batak saja.

Untuk itu ia yakin, dengan dibukanya data-data terkait penjualan film mereka yang melampaui film-film komersil yang selama ini mendominasi bioskop tanah air, diharapkan membuka mata para pengusaha film untuk bisa menjual film mereka termasuk menerbitkannya di bioskop-bioskop tanah air.

"Mereka pernah bilang film yang saya buat berkelas kondangan. Tapi tidak apa-apa, namanya juga proses dan kita belum beritahu seberapa besar sebenarnmya produksi kita yang laku. Saya yakin, dengan launching nanti mereka terbuka mata dan ikut mempublikasikan film yang kami produksi," ujarnya.(Irf/tribun-medan.com)

Penulis : Irfan Azmi Silalahi
Editor : Budi
Sumber : Tribun Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar